.::the kere travelers::.

biar kere asal traveling

the GALAU situation

galau memang. awalnya saya pikir babysitting adalah suatu pekerjaan yang bisa disambi. well in my case: disambi nyusun tesis. sebelum saya S2, saya melihat teman kost saya kayaknya asik-asik aja dengan kedua hal itu. sementara dia ke kampus, anaknya ditinggal di kost bersama mbak pengasuhnya. dan rasanya gak jarang saya melihat ibu bekerja (termasuk di tempat kerja saya dulu) yang bisa dengan tenang meninggalkan anak di rumah bersama pengasuh. saat itu memang saya gak banyak ngobrol sama mereka, saya pikir itu bukan hal yang penting dibicarakan karena memang sudah konsekuensi dari pilihan yang mereka ambil, punya anak di kala bekerja/sekolah. sayangnya, gara-gara saya gak banyak ngobrol sama mereka, saya jadi gak tau bagaimana perasaan si ibu, dan apa yang lantas mereka lakukan dalam rangka berdamai dengan perasaan itu. kenapa saya bilang ‘berdamai’? well, tentu saja karena saya beranggapan bahwa meninggalkan anak bukanlah hal yang ringan dilakukan. saya benar-benar gak tau seperti apa rasanya, hingga berbulan-bulan kemudian saya merasakannya sendiri. that AWFUL feeling.

saya pikir usia empat bulan adalah saat yang tepat untuk mulai meninggalkan alanna bersama pengasuh sementara saya beraktivitas di kampus. lagi-lagi ini kesalahan saya. andaikan sebelumnya (sebelum alanna lahir) saya sempat mengonsultasikan hal ini, saya rasa saya bisa yakin kapan waktu terbaik untuk mulai membiasakan diri saya dan alanna untuk berpisah sementara. plus BAGAIMANA cara yang efektif untuk memulai hal itu. nyatanya, dua minggu masa percobaan berakhir dengan pernyataan mundur dari sang pengasuh. dia angkat tangan karena pada siang hari alanna selalu histeris mencari saya, sementara pengasuh gak bisa menenangkan alanna. sekalinya alanna bisa tenang sampai ketiduran hanya karena alanna terlalu lelah menangis. bayangin, gimana hati saya gak kalut? padahal saya sudah meninggalkan stok ASI perah di kulkas, tapi ternyata perkaranya gak bisa selesai hanya dengan itu. dan disinilah kesalahan kedua saya: mempekerjakan seseorang yang tidak berpengalaman mengasuh ANAK ORANG LAIN. ya, tadinya saya pikir asisten rumah tangga yang biasanya mengerjakan tugas bersih-bersih itu akan bisa diandalkan dalam hal mengasuh anak, hanya karena alasan dia sudah memiliki anak. ternyata saya keliru. pengalaman mengasuh dan membesarkan anak SENDIRI akan berbeda dengan mengasuh anak orang lain. coba saja tanyakan hal ini pada saya: mau gak saya bekerja jadi babysitter yang mengasuh anak orang lain? jawabannya akan saya tulis besar-besar: TIDAK. hal sesederhana (dan se-PENTING) itu ternyata luput dari pemikiran saya. ah…

opsi berikutnya adalah mengasuh alanna di kampus. tapi tetap saja saya butuh orang untuk meng-handle alanna sementara saya beraktivitas (yang mana sulit mencari orangnya). ribetnya lagi, saya harus menyiapkan ruangan khusus untuk meletakkan segala perabot alanna dan membuatnya senyaman mungkin. sementara saya ini siapa? meski terlibat di kegiatan lab, sejatinya saya gak punya posisi yang jelas kecuali sebagai mahasiswa. rikues ruangan ke jurusan? kayaknya kok saya terlalu sotoy ya. padahal mungkin opsi ini bakal menguntungkan buat saya karena bisa tetap mengawasi alanna. however, due to those circumstances,  sementara opsi ini dikesampingkan dulu hingga batas waktu yang belum ditentukan *sigh*.

opsi terakhir: daycare, alias penitipan anak. ada satu tempat penitipan anak yang lokasinya gak jauh dari kampus jurusan. saya dan suami sudah survei ke sana dan sejauh ini sih reputasinya bagus. biaya per bulan maupun hariannya memang gak murah, karenanya saya disarankan untuk mencoba jasa penitipan insidental/harian sebelum memutuskan ambil yang bulanan. tapi entah kenapa sampai detik ini saya masih belum sreg kalau harus menitipkan alanna di situ meski hanya satu hari. bukan soal fasilitas ataupun harga, tapi trauma alanna histeris siang-siang itu masih menggelayuti pikiran saya. padahal, basic step dalam hal menitipkan anak adalah jangan kepikiran. lah gimana saya mau sukses melewati step itu kalau sampai sekarang bayang-bayang alanna histeris-ngamuk-ngamuk-nyari-emaknya masih belum hilang?? here’s why couple of days ago I tweeted “pengen curhat dengan orang yang been here done that". it’s eventually become frustrating, and I really don’t have any idea how to get out from this terrible situation. *doublesigh*

saat ini situasi memang tampak gak bersahabat buat saya. ditambah lagi perkara topik tesis yang labil macam abege jatuh cinta. saya curiga, jangan-jangan ini yang bikin produksi ASI saya berasa berkurang. ya memang hanya ‘berasa’ sih, karena sebenarnya ASI saya masih lancar. hanya saja kayaknya gak seheboh dulu, dimana saya gak merasa sulit ‘membotolkan’ 100 – 150 ml ASI sekali perah. seberat apapun pikiran saya, saya cuman minta sama Allah supaya jatah ASI alanna tetap tercukupi meski jumlahnya ngepas banget. melihatnya bisa minum sepuasnya sampai kenyang dan tertidur adalah salah satu penyejuk hati saya yang gak pengen saya tukar dengan apapun.

rasanya ingin sekali berhenti dari kegiatan lain dan fokus pada alanna. andai saya bisa, dan andai saya gak bakal ngerasa sia-sia. jujur saja, saya kok merasa yakin bahwa Allah menitipkan alanna pada saya bukan untuk membuat saya menghentikan aktivitas saya yang lain, tapi justru bagaimana saya bisa makin lihai memadukan semua aktivitas pribadi saya dengan aktivitas saya bersama alanna, dengan demikian hidup saya jadi makin produktif. sounds challenging, eh? iya emang, tapi jangan tanya soal eksekusinya. bahkan untuk langkah pertama pun saya bingung. pakai kaki kanan, yas. ya itu benar. baca basmalah, yas. lagi-lagi benar. tapi, saya harus mulai dari mana??

herannya, kalimat sepanjang ini seringnya gak bisa tersampaikan secara verbal. termasuk di hadapan suami sendiri. when I meet this confusing situation, all I want to do is just HUG him tightly. no specific solution, indeed. only a bit of an additional strength that I look for.

Iklan

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: