.::the kere travelers::.

biar kere asal traveling

the GALAU situation

galau memang. awalnya saya pikir babysitting adalah suatu pekerjaan yang bisa disambi. well in my case: disambi nyusun tesis. sebelum saya S2, saya melihat teman kost saya kayaknya asik-asik aja dengan kedua hal itu. sementara dia ke kampus, anaknya ditinggal di kost bersama mbak pengasuhnya. dan rasanya gak jarang saya melihat ibu bekerja (termasuk di tempat kerja saya dulu) yang bisa dengan tenang meninggalkan anak di rumah bersama pengasuh. saat itu memang saya gak banyak ngobrol sama mereka, saya pikir itu bukan hal yang penting dibicarakan karena memang sudah konsekuensi dari pilihan yang mereka ambil, punya anak di kala bekerja/sekolah. sayangnya, gara-gara saya gak banyak ngobrol sama mereka, saya jadi gak tau bagaimana perasaan si ibu, dan apa yang lantas mereka lakukan dalam rangka berdamai dengan perasaan itu. kenapa saya bilang ‘berdamai’? well, tentu saja karena saya beranggapan bahwa meninggalkan anak bukanlah hal yang ringan dilakukan. saya benar-benar gak tau seperti apa rasanya, hingga berbulan-bulan kemudian saya merasakannya sendiri. that AWFUL feeling.

saya pikir usia empat bulan adalah saat yang tepat untuk mulai meninggalkan alanna bersama pengasuh sementara saya beraktivitas di kampus. lagi-lagi ini kesalahan saya. andaikan sebelumnya (sebelum alanna lahir) saya sempat mengonsultasikan hal ini, saya rasa saya bisa yakin kapan waktu terbaik untuk mulai membiasakan diri saya dan alanna untuk berpisah sementara. plus BAGAIMANA cara yang efektif untuk memulai hal itu. nyatanya, dua minggu masa percobaan berakhir dengan pernyataan mundur dari sang pengasuh. dia angkat tangan karena pada siang hari alanna selalu histeris mencari saya, sementara pengasuh gak bisa menenangkan alanna. sekalinya alanna bisa tenang sampai ketiduran hanya karena alanna terlalu lelah menangis. bayangin, gimana hati saya gak kalut? padahal saya sudah meninggalkan stok ASI perah di kulkas, tapi ternyata perkaranya gak bisa selesai hanya dengan itu. dan disinilah kesalahan kedua saya: mempekerjakan seseorang yang tidak berpengalaman mengasuh ANAK ORANG LAIN. ya, tadinya saya pikir asisten rumah tangga yang biasanya mengerjakan tugas bersih-bersih itu akan bisa diandalkan dalam hal mengasuh anak, hanya karena alasan dia sudah memiliki anak. ternyata saya keliru. pengalaman mengasuh dan membesarkan anak SENDIRI akan berbeda dengan mengasuh anak orang lain. coba saja tanyakan hal ini pada saya: mau gak saya bekerja jadi babysitter yang mengasuh anak orang lain? jawabannya akan saya tulis besar-besar: TIDAK. hal sesederhana (dan se-PENTING) itu ternyata luput dari pemikiran saya. ah…

opsi berikutnya adalah mengasuh alanna di kampus. tapi tetap saja saya butuh orang untuk meng-handle alanna sementara saya beraktivitas (yang mana sulit mencari orangnya). ribetnya lagi, saya harus menyiapkan ruangan khusus untuk meletakkan segala perabot alanna dan membuatnya senyaman mungkin. sementara saya ini siapa? meski terlibat di kegiatan lab, sejatinya saya gak punya posisi yang jelas kecuali sebagai mahasiswa. rikues ruangan ke jurusan? kayaknya kok saya terlalu sotoy ya. padahal mungkin opsi ini bakal menguntungkan buat saya karena bisa tetap mengawasi alanna. however, due to those circumstances,  sementara opsi ini dikesampingkan dulu hingga batas waktu yang belum ditentukan *sigh*.

opsi terakhir: daycare, alias penitipan anak. ada satu tempat penitipan anak yang lokasinya gak jauh dari kampus jurusan. saya dan suami sudah survei ke sana dan sejauh ini sih reputasinya bagus. biaya per bulan maupun hariannya memang gak murah, karenanya saya disarankan untuk mencoba jasa penitipan insidental/harian sebelum memutuskan ambil yang bulanan. tapi entah kenapa sampai detik ini saya masih belum sreg kalau harus menitipkan alanna di situ meski hanya satu hari. bukan soal fasilitas ataupun harga, tapi trauma alanna histeris siang-siang itu masih menggelayuti pikiran saya. padahal, basic step dalam hal menitipkan anak adalah jangan kepikiran. lah gimana saya mau sukses melewati step itu kalau sampai sekarang bayang-bayang alanna histeris-ngamuk-ngamuk-nyari-emaknya masih belum hilang?? here’s why couple of days ago I tweeted “pengen curhat dengan orang yang been here done that". it’s eventually become frustrating, and I really don’t have any idea how to get out from this terrible situation. *doublesigh*

saat ini situasi memang tampak gak bersahabat buat saya. ditambah lagi perkara topik tesis yang labil macam abege jatuh cinta. saya curiga, jangan-jangan ini yang bikin produksi ASI saya berasa berkurang. ya memang hanya ‘berasa’ sih, karena sebenarnya ASI saya masih lancar. hanya saja kayaknya gak seheboh dulu, dimana saya gak merasa sulit ‘membotolkan’ 100 – 150 ml ASI sekali perah. seberat apapun pikiran saya, saya cuman minta sama Allah supaya jatah ASI alanna tetap tercukupi meski jumlahnya ngepas banget. melihatnya bisa minum sepuasnya sampai kenyang dan tertidur adalah salah satu penyejuk hati saya yang gak pengen saya tukar dengan apapun.

rasanya ingin sekali berhenti dari kegiatan lain dan fokus pada alanna. andai saya bisa, dan andai saya gak bakal ngerasa sia-sia. jujur saja, saya kok merasa yakin bahwa Allah menitipkan alanna pada saya bukan untuk membuat saya menghentikan aktivitas saya yang lain, tapi justru bagaimana saya bisa makin lihai memadukan semua aktivitas pribadi saya dengan aktivitas saya bersama alanna, dengan demikian hidup saya jadi makin produktif. sounds challenging, eh? iya emang, tapi jangan tanya soal eksekusinya. bahkan untuk langkah pertama pun saya bingung. pakai kaki kanan, yas. ya itu benar. baca basmalah, yas. lagi-lagi benar. tapi, saya harus mulai dari mana??

herannya, kalimat sepanjang ini seringnya gak bisa tersampaikan secara verbal. termasuk di hadapan suami sendiri. when I meet this confusing situation, all I want to do is just HUG him tightly. no specific solution, indeed. only a bit of an additional strength that I look for.

Iklan

the rising star

alanna ramaniya fahmi

sebuah janji

subang, 26 juni 2010

hari itu, sebuah janji terucap

terpancang tidak hanya di mulut, namun di hati

bukan hanya tentang cinta, tapi juga tanggung jawab

janji itu bukan akhir, namun justru awal dari sebuah cerita

isinya nanti tidak hanya tentang suka dan tawa, mungkin dihiasi dengan duka dan tangis

dan kami akan saling mencinta untuk mencinta-Nya

*now i can say, i LOVE you with capital letters, pinky*

cekedot juga yang ini: VIDEO IJABQABUL

how beautiful WE are... :)

sekedar rangkuman: step by step berurusan dengan balai nikah

sebenernya lagi gak mood nulis, tapi karena khawatir keburu lupa *short term memory lost*, mangkanya saya paksain untuk nulis aja hari ini.

jadi ceritanya, urusan administrasi dengan KUA sudah 99% beres. yahh, cukup melegakan meskipun diakhiri dengan saya yang misuh-misuh karena sistem birokrasi yang menyebabkan saya merasa dirampok *fyuuuuhhh…*

untuk urusan bagaimana mengurus surat numpang nikah *ada istilah yang lebih baku gak sih?* mungkin si brain yang akan lebih berkompeten untuk menjelaskannya. sedangkan saya disini hanya akan menceritakan urut-urutan urusan pendaftaran nikah yang pada umumnya dilaksanakan di wilayah domisili si perempuan. kecuali kalo kedua belah pihak berdomisili di kota/kabupaten yang sama, mungkin pengurusannya bakalan beda lagi *lebih mudah kali ya? biarin si cowok aja yang ngurus, hehehe…*. nah, urut-urutan ini saya tulis berdasarkan pengalaman saya kemarin, tentunya setelah saya memegang dokumen lengkap dari calon mempelai pria, yaitu 1) surat numpang nikah dari KUA setempat *domisili si brain*; 2) surat keterangan asal-usul *asal usul si brain, bukan dinosaurus*; 3) surat keterangan orangtua/wali; 4) surat pernyataan belum menikah; 5) salinan kartu keluarga; dan 6) salinan KTP. setelah dokumen ini saya pegang, selanjutnya giliran saya untuk mengurus dokumen kelengkapan pendaftaran nikah di KUA di wilayah tempat saya tinggal *kabupaten subang milik kuring, kuring nu nyaring ngajaring —> penggalan lagu hymne subang*

okeh, here we go..

1. surat pengantar dari RT/RW

seperti namanya, surat ini tentu diperoleh dari RT komplek rumah saya. untuk mengefisienkan waktu, surat ini diurus oleh mama saya satu hari sebelum saya ke KUA. Kepala RT-nya tetangga belakang rumah saya dan merupakan suami dari Ibu Yulia, kepala sekolah SMA saya, sekaligus teman oom-nya si brain yang kerja di Diknas *oke, kayaknya ini gak penting*. apabila surat dari RT sudah di tangan, maka surat dari RW tidak terlalu diperlukan lagi. apalagi kalo kepala RW-nya orang sibuk macam kepala RW di komplek saya itu. pukul setengah tujuh pagi saya ketok pintu rumahnya, pak RW sudah tak ada di tempat. lain kali kalo milih kepala RW perhatikan kesibukan rutinnya ya.. *pesan moral tentang rukun berwarga dan bertetangga*

2. surat keterangan dari kelurahan

dan disinilah program perampokan dimulai. untuk semua surat pengantar yang saya peroleh *lihat no 2, 3, dan 4 dari daftar dokumen brain*, saya harus membayar limapuluh ribu rupiah! padahal gak banyak yang dikerjakan oleh si petugas, hanya mengisi formulir yang sebenarnya bisa saya lakukan sendiri. setelah formulir diisi kemudian ditandatangan oleh pak lurah *well, saya gak ketemu langsung sama pak lurah sih, tapi kata petugasnya, dokumen itu hanya boleh ditandatangan pak lurah, yang katanya (lagi) hari itu sedang ada di kantor*. sempat ada insiden kecil di kantor ini, dokumen-dokumen brain yang saya masukkan ke amplop plastik ternyata KETINGGALAN! syukurlah ada desi yang dengan sukarela balik lagi ke rumah unuk mengambil dokumen tersebut. kebiasaan emang…

3. pendaftaran nikah di KUA

program perampokan berlanjut. setelah menyerahkan semua dokumen dari kelurahan (plus salinan KK dan KTP saya), petugas yang melayani saya mencatat tanggal dan waktu rencana pelaksanaan akad nikah. awalnya saya pikir hal semacam ini berlaku sistem booking, karena siapa tahu sudah ada pasangan lain yang berniat menyelenggarakan akad nikah pada tanggal dan waktu yang sama. tapi sepertinya tidak. meski demikian, saya diminta mengecek kembali ke KUA paling lambat sehari sebelum hari-H. nah, apakah saya akan menuruti saran si petugas tersebut? tentu saja tidak! gimana coba kalo pas sehari sebelum hari-H gak ada penghulu yang available untuk menikahkan kami tanggal 26 juni 2010 jam 8 pagi??? mepet benerrr ngeceknya! karena itu, saya berniat untuk mengecek kembali paliiiiiing telat seminggu sebelum hari-H. atau untuk lebih amannya, SETIAP HARI akan saya ‘teror’ petugas tersebut via ponsel. nah lho, suruh siapa ngasi nomor hape ke saya?? 😛

saya sudah menduga bahwa akan ada biaya administrasi yang harus dibayar di KUA. sebelum serah-serahan dokumen beres, si petugas menjelaskan pada saya mengenai tanda tangan amil yang tidak ada dalam surat pengantar kelurahan. setelah berbasa-basi menggunakan majas eufimisme, inti yang saya tangkap adalah: saya harus ‘ngamplopin’ buat sang amil karena saya sudah mendaftarkan nikah tanpa melewati prosedur amil. padahal yaaaahhh, pihak kelurahan juga gak menyuruh saya untuk menghubungi amil. tambahan lagi, petugas KUA sendiri yang bilang bahwa saat ini pengurusan nikah tidak harus melalui amil melainkan mengurus sendiri saja. tapi tapi tapiii, kenapa saya harus tetap ‘membayar’ amil??? nah karena saya gak mau ribet, akhirnya dicapai kesepakatan bahwa saya akan menitipkan ‘amplop’ buat sang amil via KUA, biar nanti amil-nya sendiri yang ngambil ke KUA. setelah kesepakatan pembayaran amil diperoleh, si petugas berkata pada saya, “biaya administrasinya jadi dua delapan, neng“. oh, baiklah, segitu mah wajar, ujar saya dalam hati. berhubung gak ada limapuluhan ribu di dompet saya *rencananya saya akan membayar KUA 28 ribu dan ngamplopin amil 22 ribu, jadi kan pas 50 ribu tuh..*, akhirnya saya menyerahkan selembar ratusan ribu. eh anehnya, si petugas kok diem aja, gak segera memberikan kembalian 50 ribu pada saya. setelah beberapa detik kebingungan akhirnya saya beranikan untuk bertanya, “bu, dua delapan itu dua puluh delapan ribu atau….“, belum selesai kalimat saya dengan reflek si petugas menyahut, “duaratus delapanpuluh ribu, neng…“.

saya shock.

Tuhan….

kok mahal siiiiiiiiiiiiiiihhh??? aaaaarrrrggghhh!!!

dan adegan berikutnya adalah saya sibuk ngubek-ngubek dompet dan menyadari bahwa… duit saya KURANG!! *tepokjidatramerame*

aih aiiihhh…beneran dirampok saya.

akhirnya saya dan desi mohon izin pada petugas tersebut untuk narik duit dulu di ATM. desi berkelakar, baiknya di KUA sekalian aja disediakan mesin ATM, jadi gak usah jalan kaki ke pasar dulu hanya untuk nyari ATM. hadduuuuhhh…. >.<

begitulah, akhirnya saya membayar tigaratus tigapuluh ribu di KUA. duaratus delapanpuluh ribu untuk ‘biaya administrasi’, dan limapuluh ribu untuk ‘ngamplopin’ amil. ah iya, ditambah lagi limapuluh ribu dan sepuluhribu untuk mengurus dokumen di kelurahan. yang sepuluhribu terakhir juga ada ceritanya sendiri. jadi pas di KUA saya diminta untuk menandatangani surat pernyataan bermaterai *materainya harus saya beli sendiri* mengenai status perkawinan saya saat ini *jadi inget lagu: apakah kau masih gaaadiis, ataukah sudah jaaaandaaa..*. nah, surat pernyataan ini HARUS ditandatangani pula oleh pihak kelurahan. alhasil saya mesti balik lagi dongs ke kelurahaaaaann… setelah ditandatangani, petugas kelurahan bilang sama saya bahwa untuk surat ini biaya administrasinya beda lagi, “cuma sepuluh ribu kok, neng…“. iiiiiiiihhh, ampun deh!!!

dodolnya, saya baru kepikiran soal kuitansi dalam perjalanan pulang dari KUA. tadinya saya berniat balik lagi ke KUA hari ini *saya ke KUA kemarin, sehari sebelum tulisan ini saya buat* untuk menyerahkan surat sepuluhribu itu sekaligus minta kuitansi. tapi karena desi mesti ke kampus, saya jadi males. ntar-ntar aja lah, lagian gak yakin juga bakalan dikasih, whew…

dasarnya emang saya gak pengen ribet, tapi bukan berarti saya gak boleh misuh-misuh kaaaaaaaann??

dan saya pun misuh-misuh ke haris -sahabat saya- via sms, ternyata biaya yang dia bayar di KUA Sukabumi lebih besar lagi. DELAPANRATUS RIBU RUPIAH! jengjeeeeeeeeeeenggg… jadi sebenernya berapa sih biaya resmi pendaftaran nikah ituuuu???

[eh kok jadi panjang gini ya tulisannya. kayaknya emang saya lagi gak mood nulis tapi mood banget buat ngomel-ngomel dan menceracau via tulisan, hehehe… brain, sabar yah 😀]

dua orang berkomentar sama hari itu:

pantesan orang lebih milih nikah sirri daripada nikah resmi di KUA…

ohyeaaaaahhh…

komentar saya sih:

kalo kayak gini caranya, saya mending cukup sekali aja deh nikahnya…

fyuuuuhhhh….

::pinky, laginunggubraindateng::

…yes, we’re engaged…

subang, 10 april 2010

a picture paints a thousand words, so let this picture talks…

yes, we're engaged... :)

yes, we're engaged... 🙂

*brain*
*dan sekarang saya menanti tanggal 26 juni*

PS. u look so much beautiful, pinky… 🙂

spontaneous idealist [versus] individualistic doer

Tipe Idealis Spontan

adalah orang-orang kreatif, periang, dan berpikiran terbuka. Mereka penuh humor dan menularkan semangat menikmati hidup. Antusiasme dan semangat mereka yang menyala-nyala menginspirasi orang lain dan menghanyutkan mereka. Mereka menikmati kebersamaan dengan orang lain dan sering memiliki intuisi yang jitu mengenai motivasi dan potensi orang lain. Tipe Idealis Spontan adalah pakar komunikasi dan penghibur berbakat yang sangat menyenangkan. Keriaan dan keragaman dijamin saat ada mereka. Namun demikian, kadang-kadang mereka terlalu impulsif saat berhubungan dengan orang lain dan dapat menyakiti orang tanpa bermaksud demikian, karena sifat mereka yang blak-blakan dan terkadang kritis.

Tipe kepribadian ini adalah pengamat yang tajam dan awas; mereka tidak akan ketinggalan satu kejadian pun di sekitar mereka. Dalam kasus ekstrem, mereka cenderung terlalu sensitif serta waspada berlebihan dan dalam hati siap melompat. Kehidupan bagi mereka adalah drama yang menggairahkan penuh keragaman emosi. Namun demikian, mereka cepat menjadi bosan ketika hal-hal terjadi berulang dan dibutuhkan terlalu banyak detail serta ketelitian. Kreativitas, daya khayal, dan orisinalitas mereka paling mudah dikenali ketika mengembangkan proyek atau ide baru – kemudian mereka menyerahkan seluruh pelaksanaan rincinya kepada orang lain. Secara singkat, tipe Idealis Spontan sangat bangga akan kemandiriannya, baik di dalam diri maupun yang tampak dari luar, dan tidak suka menerima peran bawahan. Oleh karena itu mereka memiliki masalah dengan hirarki dan otoritas.

Jika Anda memiliki tipe Idealis Spontan sebagai teman, Anda tidak akan pernah bosan; bersama mereka, Anda dapat menikmati kehidupan sebaik-baiknya dan merayakannya dengan pesta-pesta terbaik. Di saat bersamaan, mereka hangat, peka, penuh perhatian, dan selalu bersedia membantu. Jika seorang Idealis Spontan baru jatuh cinta, langit dipenuhi biola dan pasangan mereka akan dihujani perhatian dan kasih sayang. Tipe ini kemudian berlimpah dengan pesona, kelembutan, dan imajinasi. Namun, sayangnya, begitu kebaruan itu luntur dengan cepat akan membosankan bagi mereka. Kehidupan berpasangan sehari-hari yang membosankan tidak cocok untuk mereka sehingga banyak tipe Idealis Spontan keluar-masuk percintaan sesaat. Namun demikian, jika pasangannya bisa membuat rasa ingin tahu mereka tetap hidup dan tidak membiarkan rutinitas dan keakraban melanda, tipe Idealis Spontan dalam menjadi pasangan yang menginspirasi dan penuh kasih sayang.

Sifat-sifat yang menggambarkan tipe ini: spontan, antusias, idealis, ekstrovert, teoritis, emosional, santai, ramah, optimis, memesona, suka membantu, mandiri, individualis, kreatif, dinamis, periang, humoris, penuh semangat hidup, imajinatif, mudah berubah, mudah menyesuaikan diri, setia, peka, menginspirasi, mudah bergaul, komunikatif, sulit ditebak, ingin tahu, terbuka, mudah tersinggung.

sementara itu…

Tipe Pelaku Individualistis

adalah orang-orang yang yakin akan diri sendiri dan sangat mandiri. Mereka orang-orang yang pendiam dan realistis, sangat rasional, dan sangat tegas. Mereka memelihara individualisme mereka dan senang menerapkan kemampuan mereka pada tugas-tugas baru. Namun mereka juga adalah orang-orang yang sangat spontan dan impulsif yang suka mengikuti inspirasi sekonyong-konyong mereka. Tipe Pelaku Individualistis adalah para pemerhati yang baik dan tajam yang menyerap segala sesuatu yang terjadi di sekitar mereka. Namun demikian, mereka tidak terlalu peka dalam hubungan antar manusia dan terkejut ketika sesekali membuat orang tersinggung dengan sikap blak-blakan dan lugas mereka. Mereka tidak terlalu menyukai kewajiban; namun jika Anda memberi mereka ruang, mereka adalah orang-orang yang sesungguhnya tidak rumit, mudah bergaul, dan periang.

Tipe Pelaku Individualistis menyukai tantangan – aksi dan hal-hal yang dianggap aneh adalah bagian dari kehidupan mereka. Mereka suka mencobai nasib dan banyak orang tipe ini memiliki hobi berisiko seperti skydiving atau bungee jumping. Ini juga berlaku pada kehidupan sehari-hari mereka. Tipe Pelaku Individualistis mampu mengatasi situasi-situasi kritis; mereka dapat menangkap situasi, membuat keputusan, dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan dengan sangat cepat. Hirarki dan otoritas tidak terlalu membuat mereka terkesan; jika seorang atasan tidak kompeten, mereka tidak akan terlalu menghormatinya. Tipe Pelaku Individualistis suka menerima tanggung jawab. Mereka memiliki kepekaan terhadap realitas yang menonjol dan selalu menemukan solusi yang paling tepat dan praktis untuk sebuah masalah. Mereka melerai konflik secara terbuka dan langsung; di sini, kadang-kadang mereka tidak terlalu peka namun mereka sendiri juga dapat menerima kritik dengan sangat baik.

Sebagai teman, tipe Pelaku Individualistis setia dan penuh pengabdian; mereka hanya memiliki beberapa hubungan pertemanan namun banyak di antaranya berlanjut seumur hidup. Orang senang berbicara dengan mereka karena sikap optimis mereka dalam memandang kehidupan dan kemampuan mereka untuk mendengarkan. Namun demikian, mereka lebih suka membicarakan minat dan hobi yang sama ketimbang isu-isu teoritis atau filosofis – hal-hal itu tidak cukup nyata bagi mereka. Mereka membutuhkan banyak kebebasan dan waktu bagi diri sendiri dalam hubungan asmara namun, pada saat bersamaan, mereka juga sangat toleran terhadap pasangan mereka. Sangat jarang tipe Pelaku Individualistis jatuh cinta hingga mabuk kepayang. Mereka terlalu rasional. Mereka lebih suka memilih pasangan berdasarkan kesamaan minat dan kegemaran yang ingin mereka bagi bersama pasangan tersebut. Tipe Pelaku Individualistis tidak terlalu menyukai emosi yang meletup-letup. Mereka lebih suka membuktikan cinta mereka dengan tindakan dan mengharapkan hal yang sama dari pasangan mereka. Barangsiapa berharap mengikat diri dengan seorang Pelaku Individualistis membutuhkan banyak kesabaran. Butuh beberapa saat sebelum tipe kepribadian ini bersedia terlibat dengan orang lain.

Sifat-sifat yang menggambarkan tipe ini: introvert, praktis, logis, spontan, suka berpetualang, memiliki tekad, mandiri, berani, setia, analitis, realistis, optimis, tertarik, tidak banyak bicara, ingin tahu, hati-hati, individualis, menyukai aksi, menyukai hal-hal baru, tenang, rasional, pendiam, trampil, percaya diri, komunikatif, rendah hati.

jadi?? 😀

::pinky, bangga gitu jadi individualis-

about imperfection…

imperfections that make them perfect for us…

 

:pinky, -terharu::

rumahkami

tidak besar, namun lapang.

kami sudah sepakat, tidak akan ada televisi di dalamnya. dia rela kehilangan kesempatan mengikuti sinetron favoritnya: cinta fitri.

pemandangannya indah, menyejukkan mata. bukit kapur di kejauhan, menara mesjid mengintip dari rimbunnya pepohonan.

greatest view *lebay

rumahkami akan jadi madrasah. rumahkami akan jadi tempat kembali. rumahkami memberikan ketenangan hati.

it’s more than a house, it’s gonna be our home…

::brain::

PS. akadnya kapan yah? *rumah, bukan nikah*

hujan kemarin sore

kemarin hujan turun deras. sangat deras. disertai angin, sampai-sampai motor yang dikemudikan si brain sempat oleng *itu juga kata yang nyetir sih, yang dibonceng mah gak kliatan apa-apa*

dan saya pun akhirnya tak bisa menghindarkan diri dari siraman air hujan. basah kuyup. di depan komplek perumdos kami berhenti sejenak karena air terlalu tinggi untuk dilewati. hujan sore itu benar-benar menggila. dan saya pun mulai menggigil kedinginan.

hingga akhirnya kami tiba di rumah seorang sahabat. mengantar bakso pesanan, dilanjutkan dengan obrolan santai berteman kopi hangat. berkali-kali kami tertawa bersama. perlahan rasa hangat menyelusup, tidak hanya ke dalam tubuh, tapi juga ke dalam hati. sesaat saya bisa melupakan ‘siksaan’ hujan yang saya alami beberapa saat sebelumnya.

pulang ke rumah, saya dan brain janjian makan soto ba’da sholat maghrib. agak tak sabar menanti adzan karena terbayang nikmat dan hangatnya kuah soto.

sambil menunggu adzan, saya menyempatkan diri membaca kembali sekaligus menghapus beberapa pesan dari kotak masuk ponsel *kapasitas kotak masuk saya tidak seheboh punya si brain yang bisa menampung ribuan pesan, mau gak mau saya mesti rajin menghapus pesan-pesan yang sudah terbaca*. tiba-tiba satu pesan menyita perhatian saya, bahkan hingga tiba waktu sholat, perasaan saya makin campuraduk gara-gara pesan itu. tergetar, saya beranikan diri untuk mem-foward pesan tersebut ke lima teman. ya, hanya lima. setelah itu saya beranjak mendirikan sholat.

di penghujung sholat saya tergugu, sehebat apapun hujan yang terjadi hari ini ternyata masih belum apa-apa. pesan itu mengingatkan saya, bahwa nun di belahan bumi sana ada yang lebih menderita daripada saya. tak hanya hujan air yang mereka alami, tapi hujan mesiu. dan bagaimanakah mereka berlindung dari hujan yang demikian itu? sesaat setelah hujan, saya bisa tertawa lepas dan bergembira bersama orang-orang yang saya sayangi, tapi mereka? bagaimana mereka bisa tertawa sedangkan orang-orang yang mereka cintai justru terbaring kaku bersimbah darah sesaat setelah hujan mesiu mereda? sesaat setelah hujan lebat kemarin sore, saya masih bisa menikmati makan malam saya yang hangat dan lezat, sedang mereka? apa yang mereka makan? cukupkah kualitas dan kuantitasnya? bisakah mereka menikmati santapan mereka dengan damai?

tiba-tiba saja saya merasa diserbu jutaan rasa bersalah. saya melupakan mereka. munasharah kemarin saya lewatkan, belum ada sekelumit pun yang saya infakkan untuk mereka sampai detik ini, pun belum ada doa yang khusus saya panjatkan untuk mereka. dan saya tak kuasa menahan sesal. Rabb, ampuni saya…

di tengah teriknya lapangan monas

Ya Allah, sebagaimana Engkau pernah menghantar burung-burung ababil menghancurkan tentara bergajah musyrikin, maka kami memohon kepada-Mu ya Allah, turunkanlah bantuan-Mu pada orang-orang Islam di Palestina, hancurkanlah rezim zionis sedahsyat-dahsyatnya…Aamiin…

sepotong doa singkat di atas *disampaikan via sms oleh salah seorang senior saya di bumi nanggroe sana* sudah saya teruskan ke beberapa kawan. saya berharap pesan itu akan diteruskan lagi ke banyak orang, hingga semakin banyak pula orang yang berdoa untuk muslimin Palestina.

saya bahkan tak berani berharap doa singkat saya akan menjelma menjadi batu-batu yang menghancurkan para zionis. namun saya bertekad, mulai hari ini saya mencoba sekuat tenaga untuk menyelipkan doa bagi muslimin Palestina dalam doa-doa harian saya. semoga Allah berkenan mendengarnya, atau paling tidak, Ia berkenan menurunkan hujan deras lagi untuk sekedar mengingatkan saya…

::pinky::

PS. tadinya mau aplod di multiply juga, tapi keburu males ngeditnya..

[the precious]

mariana 'ina' sumarna

the precious

hari ini kita gak sempat chatting, tapi saya berharap semoga ia baik-baik saja, bahagia, dan bisa tidur nyenyak di sela jam kerjanya yang abnormal ituh…

can’t wait to see her tomorrow…and give her one tight hug *mudah-mudahan dia gak kabur, hehe…*

::pinky::

PS. hei, brain. tema blog-nya diganti yah, biar rada cerah gituh. bagus gak? 😀

Post Navigation